Friday, September 24, 2010

Jember


Siang itu, aku, Ayah, Ibu dan dua adik dan tiga kakakku beserta suami dan istri mereka, juga keponakan-keponakanku yang lucu tiba di rumah nenek. Mobil yang kami kendarai berhenti tepat di depan pintu pagar besi sebuah rumah berarsitektur Joglo yang berdiri kokoh. Aku sama sekali tidak melihat adanya sambutan. Rumah itu tampak sepi. Tak ada satu pun penghuni yang keluar menyambut kedatangan kami meski kakak aku yang sedari tadi masih dibelakang kemudi membunyikan klakson mobil setiba kami di situ.
Ayah lalu berinisiatif untuk membuka pagar besi yang kelihatannya sedang tidak terkunci. Setelah berhasil membukanya, kami lalu masuk ke teras rumah. Ayah sedikit berteriak memberii salam sambil mengetuk pintu dengan bantuan sebuah gagang besi yang tergantung di mulut singa, berharap si empunya rumah segera membuka. Alat itu tergantung di tengah daun pintu dan memang berfungsi untuk mengetuk pintu. Sebuah asesoris yang klasik dan unik menurutku.

Kehangatan betul-betul terasa saat nenek muncul dari balik pintu dan melihat kami semua berdiri di hadapannya. Kebahagiaan dan sedikit rasa terkejut benar-benar terlihat di wajahnya. Aku dan saudara-saudaraku pun berhamburan masuk ke dalam dan saling berebut mengambil tempat duduk di ruang tamu. Kelakuan kami bukan tanpa alasan, karena kami mengincar sebuah kursi goyang milik almarhum kakek yang tidak bisa ditemui di rumah. Dan beruntung karena aku yang duluan mendudukinya. Sebuah kepuasan yang tiada tara. Mereka tampak saling berpelukan melepas rindu, membuka obrolan dengan hangat tentang kabar di sini dan di sana, kabar si ini dan si itu. Biasalah… seperti halnya obrolan sebuah keluarga yang sudah lama tidak bersua.
Tak lama kemudian sedikit demi sedikit latar objek yang tampak di depan mataku tiba-tiba berubah. Sekarang aku berada di halaman sebuah rumah. Dari kejauhan di ujung jalan, tampak Bay berjalan mendekat ke arahku. Baihaqi nama lengkapnya. Seorang alumnus sebuah universitas negeri di kota Angin Mamiri Makassar dengan singkatan S.Pd. mengekor di belakang namanya. Dia sahabat aku sejak duduk di bangku sekolah dasar sampai saat ini, sampai dia dan teman-teman seangkatan kami telah lulus kuliah dan meraih title sarjananya. Aku tak habis pikir, bukankah saat ini dia sedang berada di Toli-Toli? Perasaan, dia berangkat ke sana sebulan yang lalu. Sebuah keputusan yang berat karena harus meninggalkan orang tua dan teman-teman menuju daerah perantauan. Mencoba mengadu peruntungan untuk menjadi abdi negara dengan nomor induk pegawai negeri tersemat di dada, serta mendapatkan SK yang nantinya bisa langsung digadaikan pada bank pemerintah agar bisa mencairkan kredit untuk memenuhi kebutuhan tersier yang terkadang tidak bisa dicerna akal.
PNS, pegawai negeri sipil, atau apalah namanya. Sebuah status yang begitu didambakan seorang sarjana, tamatan SMU, bahkan anak-anak muda lulusan SMP sekalipun. Mereka punya mimpi yang sama, berharap mendapatkan gaji tetap setiap bulan dengan jaminan pensiun dari Negara. Begitulah kira-kira perilaku anak muda di tempat aku dan Baihaqi tinggal, atau mungkin di seluruh pelosok negeri ini, sampai mereka rela menghalalkan segala cara demi mendapatkan status itu. Segala cara ditempu seakan-akan hal itu menduduki sebuah strata social tertinggi di tengah-tengah masyarakat.
Orang yang memakai seragamnya saja begitu dihargai, meski cuma seorang honorer atau tenaga magang di kantor kelurahan yang tak jelas kerjanya apa. Selain itu mereka yang magang cuma setahun diijinkan mengenakan seragam dinas tersebut. Selepas itu anda harus siap-siap hengkang dari kantor ini. (ini merupakan kebijakan kepala daerah kami yang takut kalau-kalau mereka yang berstatus magang kerja nantinya menuntut untuk diangkat menjadi pegawai negeri bilamana sudah merasa lama mengabdi pada negara. Saya rasa sikap paranoid kepala daerah kami cukup beralasan.)
Semakin jelas aku melihat Bay berjalan mendekat ke arahku, dan itu memang benar-benar dia. Tanpa sepatah kata yang sempat kuucap, aku lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah di mana aku berdiri di atas halamannya. Sebuah rumah sederhana dengan cat putih telur pekat. Warna oranye tersapu pada dua korsen jendela yang terletak di sisi kanan dan kiri pintu utama. Pintunya sendiri memakai kayu mahoni dengan ukiran khas jepara berwarna coklat kayu yang divernis mengkilap.
Itu adalah rumah sepupuku, Hajjah Latifah namanya. Seorang wanita paruh baya yang tampak lebih tua karena andil busana yang dikenakannya. Sebuah baju model kurung dan sepotong kain renda yang terikat di kepala untuk menutupi rambut adalah gaya berpenampilan bersahaja yang biasa ia tampilkan dalam keseharian. Memberi kesan lebih tua dari umur dia sebenarnya. Dia adalah putri pertama adik ayahku. Usianya kira-kira sama dengan kakak perempuanku yang pertama. Saat itu aku tidak melihat keberadaannya.
Begitu aku dan Bay memasuki rumah itu, di dalam suasana sibuk tergambar jelas.seperti hendak mengadakan hajatan besar pikirku. Ada banyak sanak family yang terlihat sedang beraktifitas di situ. Tetapi yang membuat mataku tercekat adalah seorang gadis remaja yang sedang mengaduk adonan di sudut meja. Seorang gadis remaja yang sangat cantik. Matanya begitu indah dengan tatapan teduhnya yang menyejukkan kalbu. Hidung mancungnya yang mungil, bibirnya yang kecil dan basah memerah, serta kulit wajah yang putih bersih dengan dua pipi tembemnya yang menggemaskan. Benar-benar memanjakan dan memesona mataku.
Ooh.. Ana. Dialah gadis pujaanku. Putri sulung Hajjah Latifah dari empat bersaudara yang mana kesemuanya perempuan dan kesemuanya cantik pula. Setahu aku biasanya dia berjilbab. Maklumlah sebagai putri bu haji dan pak haji, ana merupakan santriwati yang mondok di sebuah pesantren putri ternama di Ponorogo. Tak heran bila dia ditempatkan di sana karena ibunya adalah alumnus terbaik di pondok pesantren tersebut. Saat itu tampak jelas di depan mataku, rambut panjangnya yang tergerai indah, kemilau hitam di permukaan sutera yang bergelombang menghiasi wajahnya yang oval. Aku selalu bermimpi bisa bersanding dengannya. Matanya yang indah itu mendapati aku sedang termenung tercekat memandanginya.
“Baru datang kak?” sapanya lembut.
“Eh, iya iya. Baru saja. Nih! Dengan temen.” Jawabku tergagap sambil menunjuk bay.
“Tidak biasanya dia bersikap akrab begitu.” Batinku.
Tanpa sadar aku mengedipkan sebelah mataku padanya dan dia terkejut sambil tertunduk malu. Ooh… berani benar aku ini. Tidak biasanya aku bersikap layaknya seorang playboy cap tengik di hadapan seorang gadis. Tapi jujur itu tadi hanyalah spontanitas belaka yang aku tak tahu dari mana dorongannya timbul.
Aku dengan bangga mengajak Bay melihat-lihat dan memperkenalkan sanak family yang ada di kampung halamanku, seperti ingin menyampaikan bahwa inilah keluarga besarku, keluarga Gus Arif, salah satu penjaja kitab yang kesohor di jember.
Tak jauh dari Ana duduk, tampak Elvi sedang bercengkrama dengan teman sebayanya. Elvi adalah adik Ana. Dia pun tak kalah cantik dengan kakaknya. Yang membedakan mereka cuma dari postur tubuh, Elvi tampak lebih tinggi dan langsing, berbeda dengan Ana yang tubuhnya sedikit gemuk atau mungkin gempal lebih tepatnya. Tetapi kulit Elvi berwarna agak gelap, berbeda dengan Ana yang memiliki kulit putih bersih. Mungkin ini disebabkan karena gaya Elvi yang tomboy dan suka bermain permainan anak lelaki, tidak seperti kakaknya yang sangat feminim. Tapi jujur hal-hal itu sama sekali tidak mengurangi kecantikan mereka. Oia, tetapi aku tidak melihat adanya tanda-tanda keberadaan dua adik mereka. Entah kemana.
Baihaqi yang berdiri di sampingku mengangguk memberi kode mengajakku untuk keluar dari tempat itu. Aku pun beranjak dari tempatku berdiri dan mengikutinya dari belakang. Tak terasa sekarang aku sedang duduk di jok depan sebuah mobil. Sungguh sebuah mobil yang nyaman. Bay berada di sebelahku dengan psisi kemudi berada di bawah kendalinya. Kalau aku tak salah, mobil yang sedang aku tumpangi ini berasal dari pabrikan Jepang dengan merek Hyundai A to Z. tanpa banyak bicara Bay memacu mobil meluncur ke jalanan kota Jember. Aku tak menyangka Bay bisa menyetir mobil, perasaan baru seminggu lalu aku dengar kabar kalau ayahnya membeli sebuah mobil. Itu pun bukan sebuah Hyundai AtoZ, tetapi Suzuki Carry. Dan lagi, satu-satunya orang yang bisa mengemudikannya hanyalah ayah Bay. Jadi, bagaimana dia bisa menyetir?
“Wah, kamu kapan belajar nyetirnya Bay? Perasaan, baru seminggu lalu aku denger bapak kamu beli mobil. Nah ni kamu udah lancer nyetirnya.” Tanyaku ingin tahu.
Ya… dikit-dikit bisalah… begitu mobilnya ada, gue langsung belajar. Hasilnya lo bisa liat sendiri!” jawab Bay santai.
Bagaimana mungkin seseorang bisa langsung handal menyetir mobil langsung di jalan raya hanya dalam waktu sehari dua hari belajar. Sungguh tidak bisa aku terima dengan akal.
Sampai di situ aku tidak bertanya lagi, yang aku lakukan hanya duduk manis sambil menikmati pemandangan kota Jember lewat jendela mobil. Tampak pintu gerbang kota seakan menyambut dan menyapa aku. Bertanya mengapa lama sekali kau tak menjengukku di sini. Pohon-pohon di sepanjang jalan terlihat melambaikan dahannya seakan-akan menyambut kedatangan kami. Setiap orang yang lalu lalang pun tak lupa menyunggingkan senyum seakan telah mengenalku seperti teman lama yang baru saja bertemu.
Pelan tapi pasti pemandangan yang tergambar di hadapanku perlahan-lahan membias putih menyilaukan yang kemudian redup sampai akhirnya menjadi gelap sama sekali. Aku merasa ada sesuatu yang menggerak-gerakkan badanku di sertai tamparan kecil yang berunglang kali mendarat di pipi.
“Le! Bangun le! Kamu ga sholat subuh? Ayo bangun! Entar kesiangan lho!” perlahan suara ibu semakin jelas terdengar di telinga. Bersamaan dengan itu kubuka mata dan terlihat Ibu sedang berusaha membangunkanku.
“Oooah…” mulutku menguap lebar.
Tampak Ibu sudah kembali ke dapur melanjutkan aktifitasnya, sedang aku masih duduk termenung sejenak di atas kasur matras, tersadar kalau yang baru saja aku alami itu cuma mimpi. Tapi begitu jelas sampai tampak nyata bagiku. Semua wajah yang aku damba dan aku sayangi muncul mengobati kerinduanku. Keluarga besar di kampung halaman, sebuah cinta sejati, seorang pasangan hidup, dan sahabat karib yang selalu ada buatku.
“Indahnya Ya Robbi… semoga engkau bermurah hati mewujudkan semua itu.” Do’aku dalam hati.
Segera aku hantikan lamunanku dan beranjak menuju kamar mandi. Membasuh muka dan mengambil air wudhu untuk kemudian shalat subuh, selagi sang surya belum sempurna menampakkan silau wajahnya.

04 Maret 2009
For My Althafunnisa

2 comments:

Meningkatkan Kualitas Pendidikan Indonesian Melalui Peran dan Kontribusi Perguruan Tinggi

  Oleh Dosen IAIN Bone_ Evelina Satriya Salam, S.Pd.,M.Pd.   Pendidikan merupakan pilar utama kemajuan suatu bangsa, dan guru adalah jan...