Ada banyak cinta dan fenomena dalam dunia edukasi kita. Kisah seorang pemimpin yang menyentuh lembaga pendidikan dengan cinta, membawa perubahan yang fundamental dari akhlak, disiplin, etos, dan paradigma dalam menyikapi sebuah permasalahan. Ada juga sastrawan senior yang tak pernah bisa diam dalam memperjuangkan kecintaan generasi bangsa akan buku dan nilai-nilai sastra. Tidak lupa juga dua anak muda Jogja yang membawa bingkisan ilmu, betapa pentingnya mengikat gagasan dan mempublikasikannya dalam sebuah kitab yang disebarkan hingga ke ujung negeri. Sebuah ilmu mendatangkan pundi-pundi emas dari ilmu yang diamalkan, menjadikan kita seorang yang beruntung dunia dan akhirat.
Pada hari kedua rangkaian acara launching buku "Pemimpin Cinta", yakni pada hari Sabtu (28/2) dilaksanakan acara pelatihan menulis dan kiat menerbitkan karya yang dibawakan oleh dua anak muda editor penerbit Mizan asal Jogja, Kang Iqbal dan Kang Fuad. Pelatihan berisi seputar kiat menulis dan trik supaya karya kita dapat diterima dan diterbitkan oleh penerbit. Acara ini diikuti oleh para pimpinan unit Sekolah Islam Athirah, baik itu dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah, serta beberapa guru mata pelajaran. Kang Iqbal memaparkan bahwa kunci sukses seorang penulis adalah senantiasa membaca dan selalu menulis. Kehati-hatian dalam menulis hanya akan menyebabkan seseorang terkungkung dalam aturan-aturan penulisan sehingga tak kunjung menghasilkan sebuah tulisan. Ditambahkan lagi oleh Kang Fuad bahwa ternyata satu hal yang penting dalam menulis adalah keaslian dan keunikan gagasan, adapun masalah penulisannya itu akan menjadi urusan sang editor.
Pelatihan ini dibagi menjadi tiga sesi, yakni pemaparan teori, kemudian sesi tanya jawab, kemudian berlanjut dengan praktik menulis. Di sela-sela pelatihan, Sastrawan kondang Taufik Ismail memberikan beberapa patah kata dan sempat membacakan dua puisinya terkait rendahnya minat baca dan sastra di kalangan generasi muda. Beliau juga menceritakan perjuangannya dalam mewujudkan kurikulum mata pelajaran bahasa Indonesia yang tidak hanya berpihak pada linguistik semata, tetapi juga mendukung minat baca dan sastra di kalangan pelajar. Puisi yang dibacakan pun tak kalah memukau peserta yang hadir, ruangan seketika senyap tatkala beliau membacakan larik demi larik puisinya yang khas menggunakan bahasa sederhana dan interpretatif.
Di akhir acara, pimpinan Athirah Megazine yang akrab dipanggil Bu Iin, memberikan oleh-oleh kepada peserta berupa tugas tulisan mengenai kesan-kesan selama bekerja di Sekolah Islam Athirah, yang nantinya akan diedit oleh Mizan dan diterbitkan di kalangan internal Sekolah Islam Athirah.
Tag: Pemimpin Cinta


No comments:
Post a Comment