Thursday, September 23, 2010

Karena aku wong djowo


Dengan wajah layu pandanganku menerawang, beredar diantara pejalan kaki di trotoar dan lalu lalang kendaraan di jalan. Sesekali kuusap peluh di dahi yang tampak gelap karena terpaan teriknya sinar matahari siang. Panasnya cuaca membuat kepalaku penat, sampai tulang belulangku pun ngilu dibuatnya.
Di atas bangku sebuah kedai minuman pinggir jalan aku daratkan pantatku setelah beberapa meter kaki ini melangkah dari sekolah setelah jam pelajaran akhir usai. Tak terasa hampir setengah jam aku duduk disini. Bapak yang berada di sebelahku tampak menenggak tegukan terakhir es kelapa mudanya. Begitu juga dengan pasangan wanitanya yang tampak santai tapi serius menyeruput cairan buah segar tersebut melalui ujung pipetnya
Si Abang penjual minuman tampak sesekali melirik ke arahku. Mungkin dia mengira aku hendak numpang Ngadem gratis. Tanpa rasa bersalah aku cuek aja meski sesekali dilihat sinis oleh si abang penjual.

“Namanya juga lagi nunggu. Jadi ya, entar belinya, kalo yang ditunggu udah dateng”. Kataku membatin
“Hei bocah! Dari tadi bengong mulu’. Ga pesen? Hari lagi panas nih!!” Tanya si abang dengan mimic menyindir.
“Hehehe.. entar aja deh bang. Nanggung, lagi nungguin temen. Nih entar juga datang.” Balasku
“Tapi apa iya entar cukup duitnya? kan tinggal 5000 perak, ni juga cukup buat ongkos pulang entar.” Otakku berpikir ulang tentang jawabanku tadi.
“Au’ ah. Apa kata entar aja. Tapi… apa ya, yang kira-kira mo dia sampe’in? ampe bela-belain minta ketemuan panas-panas gini?” gumamku dalam hati.
Kali ini bukan mataku yang menerawang, tetapi alam pikiranku. Dua minggu terakhir ini Wati tampak sedikit aneh. Purwati namanya. Gadis hitam manis anak kelas 2 SMU Merdeka, yang letaknya ga jauh dari sekolahku. Dia yang kelasnya setahun di bawah aku, tiga bulan terakhir ini menjadi pujaan hati seorang pemuda yang guantengnya ga ketulungan. Dan itu adalah aku. Hehehe.
Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Seperti menyimpan sesuatu hal yang mengganjal di hati. Smsku sekarang aja jarang dibalas. Entah apa dia sedang ga ada pulsa aku tak tahu. Tapi, seperti itu kira-kira alasan no.1 yang sering dia pakai buatku bila bertanya. Saat kutelfon pun begitu. Suara di seberang sana seakan-akan tak punya gairah meski hanya sekedar membalas basa-basi dan humorku yang seolah sudah tak lucu lagi buatnya. Namun, aku tetap berusaha berpikir positif. Namanya juga pacaran. Pasti ada asem manisnya. Biar seperti sayur bening, kalo ga ada asemnya, ga berasa.
Dalam lamunan, aku mengenang kembali bagaimana kami saling mengenal. Sebuah perkenalan yang bermula dari pertemanan di sebuah situs jejaring social yang kini sedang marak di semua kalangan pengguna internet. Tidak hanya ABG, orang tua pun mulai keranjingan dengan situs yang beranggotakan jutaan orang hampir di seluruh belahan dunia ini. Selain mengisi waktu senggang, ketemu teman lama, sampai sebagai alat untuk mengontrol perilaku anak di dunia maya menjadi alasan banyak pengguna untuk bisa bergabung di komunitas dunia maya. Yang paling penting adalah semuanya gratis. Jadi, sah-sah saja.
Awalnya kami saling bertukar nomer ponsel, dia beralasan bahwa wajah aku selintas mirip dengan temannya sehingga dia beranikan diri untuk meminta nomorku. Mulanya sms-an, lalu hubungan kami semakin akrab seiring intensnya perhatian yang diberikan oleh satu sama lain. Dia juga sering curhat masalah sekolahnya, teman-temannya, keluarganya, bahkan sampai mantan pacarnya. Aku pun berusaha menjadi pendengar yang baik buatnya. Tak dinyana kami merasa ada kecocokan, meski sebenarnya sedikitpun dia tidak ada dalam daftar cewek idamanku. “ga gue banget”. Begitu mungkin aku menyebutnya. Satu-satunya alasan kenapa aku tertarik padanya, karena gaya parlente yang tampak pada foto profil akunnya, meski belakangan aku tahu kalo dia anak penjual tempe. Tapi, namanya juga terlanjur cinte, semua itu ga berase. Begitu mungkin kate anak jakarte.
Gue Supriyanto, anak-anak kalo manggil anto’. Gue emang asli anak Jakarta. Tapi berhubung orang tua mengadu nasib di pulau sumatera. Apa daya aku pun turut berlabuh di sana. Jakarta memang tempat segalanya. Tapi mungkin orang tuaku punya pandangan berbeda. Jakarta sudah penuh sesak dengan manusia-manusia gila yang menghalalkan segala cara, sampai warga pribumi seperti kami bisa tersingkir dari tanah leluhur yang tercinta.
“Ini tanah baru. Peruntungan kita di sini.” Kata ayahku saat mengenang kembali awal beliau ikut program transmigrasi.
Meraih mimpi emang hak setiap orang. Ayahku adalah salah satu contoh peraih mimpi. Tapi, tidak dengan Ibu Wati yang terus merajut mimpi untuk bisa bertemu dengan anak gadisnya yang sudah tujuh tahun tak kembali. Shanti, Sang kembang desa pergi merantau ke ibu kota dengan harapan bisa merubah nasib diri dan keluarga. Tapi setelah dilamar orang asli betawi dan meraih sukses di sana, dia seakan lupa dengan orang tua dan kampung halaman. Sekali pun dia tak pernah pulang. Mungkin hanya sesekali member kabar lewat telepon atau telegram. Yang membuat Ibu Wati terluka hatinya adalah restu sang bunda saat ucap janji suci pernikahan anaknya tersebut hanya diminta lewat sebuah pesan singkat
“Mak, mohon doa restu. Shanti mau nikah besok, dengan pemuda Jakarta. Bang Somad namanya. Dia baik mak. Maaf mak! Shanty belum bisa pulang. ” Tulisnya lewat pesan singkat waktu itu.
Terlebih lagi dia mendengar selentingan kabar bahwa suami anaknya lah yang melarang dia untuk pulang. Bagaimana tidak tambah terluka hatinya, melawan rindu kepada sang putri yang tak kunjung membesuknya. Makhluk yang telah dia lahirkan dengan susah payah ke dunia. Berawal dari situlah Emak Wati begitu benci dengan yang namanya orang Jakarta, atau apalah namanya, yang penting orang yang lahir di pulau jawa. Meski sehari-hari dia nonton sinetron yang syuting, pemerannya, dan siarannya di pulau jawa sana. Sikap Rasis yang timbul dari paranoid karena trauma.
Satu sisi positif dari kesuksesan kakak Wati adalah dia masih peduli dengan adiknya. Selama 2 tahun terakhir, Shanti senantiasa mengirim uang untuk biaya sekolah adiknya di kampung. Terkadang di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, Wati merasa iri dengan teman-temannya yang bisa dengan mudah mendapatkan apa yang diinginkan. Sempat terbersit dipikiran untuk meminta uang jajan lebih pada kakaknya. Namun, shanty selalu mengingatkan bahwa kehidupannya di Jakarta tidak semapan yang dia bayangkan. Suaminya hanya seorang pegawai negeri rendahan yang bila mengandalkan gajinya saja tidak akan cukup untuk bertahan di kota sekeras Jakarta. Jadi, dia harus bisa mencari tambahan untuk bisa membiayai sekolah adiknya di kampung.
Banyak mimpi yang Wati ingin raih, termasuk menjadi orang yang sukses dan bisa membahagiakan Emak dan Bapaknya. ”Aku akan belajar sungguh-sungguh dan sukses” begitu janjinya pada emaknya sebelum berangkat ke Kota Lampung untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pacaran baginya adalah nomor sekian, apalagi ibunya pun tidak mengijinkan dia untuk pacaran dulu karena masih sekolah. Jadi, selama ini kita menjalin hubungan tanpa sepengetahuan orang tua Wati. Untungnya aman-aman saja. Sahabat dan keluarga Wati di sini yang mengetahui hubungan kami tidak sampai mengadukan hal ini kepada emak Wati di kampong. Alasannya karena mereka tahu kalau aku anak baik-baik dan bisa dipercaya untuk membawa hal positif pada diri Wati.
Hamparan jalan seakan tenggelam oleh panasnya siang yang semakin liar membakar kota. Di tengah lamunan dan pandanganku yang kosong. Tampak dari kejauhan, sosok manis yang dari tadi aku tunggu berjalan tergesa-gesa. Aku melihatnya dengan gerakan slow mosion seakan-akan dia berlari melayang-layang perlahan ke arahku dan akan segera memelukku. So sweet… tapi lamunanku segera berakhir setelah kini dia sudah berdiri tepat di hadapku. Sambil tergagap aku mempersilahkannya untuk duduk.
“dah lama ya nunggu?” Tanya Wati dengan wajah tidak bersemangat.
“ah, ga ko’! duduk nih”. Tawarku mempersilahkannya untuk duduk.
“makasih To’. Aku cuma sebentar. Aku cuma mau bilang kalau aku mau kita putus sekarang. Makasih banyak atas semuanya. Dan maafin aku atas semua ini” ucapnya tanpa berbasa-basi.
Tampak dari kejauhan sekumpulan remaja putri memberinya kode untuk segera mengakhiri obrolan singkat kami.
“aku harus pergi to’. Sekali lagi aku minta maaf!” ucapnya dan segera bergegas pergi.
Di tengah rasa tidak percaya terhadap apa yang baru saja aku dengar. Bibir ku masih sempat untuk berteriak bertanya padanya.
“Tapi kenapa……?” pekik suaraku padanya yang tengah berlari.
Di tengah laju langkahnya dia berhenti sejenak dan berbalik ke arahku sambil menjawab tak kalah kerasnya.
“Karna kamu seorang jawa”
Dengan iringan bunyi gamelan jawa yang disenandungkan Kangen Band, Bagaikan lakon dalam sinetron lepas di salah satu stasiun TV swasta, Tubuhku yang masih mematung bertanya.
“Emang salah kalo gue Wong Djowo?”

No comments:

Post a Comment

Meningkatkan Kualitas Pendidikan Indonesian Melalui Peran dan Kontribusi Perguruan Tinggi

  Oleh Dosen IAIN Bone_ Evelina Satriya Salam, S.Pd.,M.Pd.   Pendidikan merupakan pilar utama kemajuan suatu bangsa, dan guru adalah jan...