Bintang-bintang
bertaburan di langit Panyula. Bulan tersenyum memandang khusyuknya
santri-santri di Athirah menunaikan kewajiban malam, Salat Isya berjamaah.
Santri putra, santriwati, guru, kepala sekolah, karyawan, pembina asrama,
satpam, sampai tukang kebun semuanya menghadapkan wajahnya.Semuanya sujud pasrah
di hadapan Allah, Rabb Sekalian alam semesta.
Dari
kejauhan tampak seorang santri berlari di selasar, diikuti sosok lelaki
bersarung, lari sekelebatan. Keduanya akhirnya bisa dihentikan, dihadang satpam
sekolah, Pak Pabbetongi. Tepat di depan
pintu gerbang, Ustad Agus urung berjamaah bersama sekalian warga pondok. Ia
beradu kuat bersama pak pabbetongi, menahan pintu gerbang pondok agar tidak
jebol dibobol Alif, santri baru yang bersikeras ingin pulang ke rumahnya.
Sesekali,
bocah 12 tahun itu menendang apa saja yang ada di depannya. Tidak terkecuali
teralis pagar besi yang tetap saja kokoh, tak bergeming meski digoyang raung
tangis Alif yang memaksa agar dipulangkan ke rumahnya.
“Ciat,
iyak, aik,” Pekik Ustad Agus dan Pak Pabbetongi menghindari benda-benda yang
melayang ke arahnya hasil tendangan membabi buta Alif.
Mulai
dari kertas, bebatuan, sampai tempat sampah di belakang pos satpam melayang.
Dua karyawan Sekolah Islam Boarding Athirah ini hanya bisa mengelak sambil
membujuk Alif agar mau kembali ke asrama dan bergabung bersama rekan-rekannya.
“Ayo’
mi, nak! Kembali’ maki di asrama. Ndak capek q itu? Ayo’mi. Nanti besok saya
antar ki. Tidak ada mobil kalau malam-malam begini.”Ujar Ustad Agus sambil sesekali
mencoba membelai kepala Alif, namun selalu saja gagal karena
tendangan-tendangan kaki kecil Alif juga
mencoba meraih sarung ustad, yang baru sebulan menikah itu.
Akhirnya,
raungan itu mereda tatkala Bu Ayu datang menghampiri tiga sejoli tersebut sepulang
dari salat isya. Alif lalu menghambur ke pelukan Bu Ayu yang juga wali kelasnya
di sekolah. Selamatlah Ustad Agus dan Pak Satpam.
“Kenapaq
begitu,nak?”
“aih,
ndak malu q itu diliat sama teman-temanta nanti?” Bujuk bu ayu sambil mengusap
kepala santri yang baru tiga hari
ditinggalkan orang tua dan rombongan orang sekampung untuk bersekolah berasrama
tersebut.
“huuuuhuuu..
mau ka pulang, Bu?” Rengek Alif lagi.
“Iya,
iya, nanti kita telepon Ibu’ta, di Enrekang, ya? Biar Alif dijemput” sambut bu
Ayu.
Malam
itu dunia kembali tentram. Alif kembali ke lantai dua ranjang di kamarnya untuk
menyambung asa bahwa Ia akan dijemput, pulang ke Enrekang. Berkumpul bersama
ibu, ayah, dan adik-adiknya.
“Kriiiing....Kriing.....”
bel asrama menjerit berkali-kali. Tepat pukul 03.45. dini hari. Tanda bahwa
semua warga asrama harus beranjak dari pulau kapuk menyaingi ayam jantan
menyambut pagi. Semua santri bergegas ke kamar mandi mengantri dengan tertib
agar tidak terlambat mengikuti salat tahajjud berjamaah. Tidak terkecuali Alif.
Ustad Kholis yang kebetulan piket hari itu memijit-mijit lembut ibu jari
kakinya agar bangun dan beranjak untuk bersiap ikut salat tahajjud berjamah.
Meski
dengan langkah gontai dan terhuyung-huyung karena masih mengantuk. Alif
akhirnya mampu menyelesaikan lima rakaat salat tahajjud dengan witir. Berjalan
ke musala untuk salat subuh dan mengikuti kelas tahfidz. Meski dengan mata
membengkak, ustad supriadi yang bertugas di kelas tahfidz sengaja tidak
bertanya pada Alif karena sudah tahu penyebabnya.
Pagi
itu langit cukup cerah. Mentari tersenyum manis, semanis langkah Alif yang
mengiringinya ke sekolah. Rahmat, Siswa kelas X yang juga teman sekamarnya,
menemani Alif bersama tiga rekan lainnya. Rombongan-rombongan kecil lainnya
mengikut dari belakang. Mereka menyambut pagi yang cerah, menyongsong masa
depan di sekolah berasrama.
Pagi
itu, Jam pertama pelajaran di kelas yang mengisi adalah Pak Kholis.
“Attention,,,”
Pekik Sandi, Ketua Kelas VII Ar Rahim Mengomandoi siswa yang lain.
“Ready,,,,”
jawab siswa-siswa yang lain dengan pekikan yang tidak kalah kuat.
Setelah
memberi salam, mengumandangkan yel-yel kelas. Semua siswa kelas VII Ar Rahim
bersiap menerima materi bahasa indonesia dari sosok lelaki berbadan tambun
tersebut.
“Baik
anak-anak, hari ini kita ada agenda ulangan harian, ya? Tentang materi terakhir
kemarin” Tanya Pak Kholis mengawali materinya.
“Siap
Pak.” Jawab anak-anak serentak, kecuali Alif yang melongo melihat teman di
kanan dan kirinya.
“Tapi,
nanti, ya! Di jam kedua aja. Bapak akan mengulang dulu materi terakhir tentang
‘kalimat langsung dan kalimat tidak langsung’.” Kata Guru yang aslinya berasal
dari Jawa Timur tersebut.
“Ingat,
ya! Kalimat langsung itu cirinya menggunakan tanda petik, dan bila akan diubah
menjadi kalimat tidak langsung, kalian harus memerhatikan kata kerja
tindakannya, dan juga kata ganti untuk pelakunya. Ayo, sekarang coba kalian
perhatikan! Bapak mau nge tes kalian dulu.” Urai panjang Pak Kholis.
Satu
persatu siswa kelas VII Ar Rahim naik ke depan mengerjakan soal-soal yang
diberikan oleh Pak Kholis. Ada yang berhasil, tetapi tidak sedikit juga yang
menemui kegagalan. Semua siswa antusias mengangkat tangan, mencoba menjawab
soal-soal bahasa indonesia yang menantang dari guru yang senang menggunakan pin
yang berbeda-beda di dadanya, setiap hari setiap ia masuk mengajar.
Alif
terkagum-kagum melihat kelas yang begitu bersemangat dan melihat betapa
teman-temannya menikmati salah dan benar saat mengerjakan soal-soal tersebut.
Ia akhirnya dengan wajah tersipu memberanikan diri mengangkat tangan.
“Alif
bisa?” tanya Pak Kholis dengan alis mata yang sedikit naik.
“hehehe,,,
mau ka juga mencoba juga, Pak” Jawab Alif dengan gaya tutur khas Enrekangnya,
dimana bunyi “E” yang seharusnya dibaca seperti pada bunyi “E” pada Telur
tetapi dibaca “E” pada“Meja”. Jadinya seperti gaya bicara si poltak dari medan.
Ternyata
jawaban yang Alif torehkan di papan tulis hampir benar. Membuat Ia tambah
semangat menyimak penjelasan dari Pak Kholis terkait perbaikan dari jawabannya
yang salah.
Kertas-kertas
putih berisi soal ulangan bahasa indonesia itu akhirnya terbagi juga. Alif
tertegun melihat 20 soal yang terdiri atas 15 pilihan ganda dan 5 nomor soal
esai itu.
“Pak,
yang nomor 6 ini bagaimana ya?” tanya Alif.
“Ow,,
itu tentang struktur teks deskripsi. Alif ndak masuk ya, kemarin”
“hehehe,
Iya, Pak. Saya lagi sibuk. Sedang galau, Pak.” Ujar Alif dengan wajah memerah.
Sontak
semua temannya tertawa mendengar pengakuan polos Alif.
“Makanya,,
kalau Alif mau galau, sesuaikan dulu sama rosternya. Kalau besok ulangan,
galaunya hari itu ditunda dulu, ya?hehehehe” canda Pak Kholis yang diikuti tawa
teman sekelas Alif.
Alif
hanya bisa tertunduk lesu sambil berharap keberuntungan menaunginya, mengingat
15 nomor soal yang diberikan dalam bentuk pilihan ganda.
Sepulang
salat Ashar, Alif memilih bermain bulu tangkis untuk mengisi jadwal olahraga
sorenya. Di tempat lain, tampak ada siswa dan guru yang sedang bermain futsal di lapangan
basket. Ada juga siswa yang bermain voli, joging, sampai berlatih bela diri. Di
Athirah Boarding School memang disediakan banyak pilihan olahraga yang bisa
santri-santrinya pilih untuk mengisi waktu di sore hari.
Penat
bermain tepok bulu, Alif menuju kantin sekolah untuk mengambil air minum.
Mengobati dahaganya. Setiap sore, kantin sekolah menyediakan minuman sirup susu
dingin untuk semua anak yang berolahraga. Pun untuk siswa-siswa yang mengikuti
les sore, bedanya adalah, untuk siswa yang mengikuti les sore sekolah menyediakan minuman lengkap dengan
kudapannya.
Tidak
sengaja Alif melihat Sarah baru saja pulang dari sekolah dijemput oleh Umminya.
Sarah adalah anak usia sekolah playgroup, putri semata wayang dari Pak Kholis.
Walau masih playgroup, anak yang pipinya menggemaskan itu sekolah mulai dari
jam 07.00 sampai pukul 04.30 sore. Istilah kerennya full Day School. Konsep
sekolah yang menggabungkan belajar, bermain, sekaligus penitipan anak.
Alif
menatap dua perempuan ini lekat. Sarah dengan langkah kecilnya yang
menggemaskan, digandeng oleh Umminya dengan penuh cinta dan kasih sayang.
sambil berjalan, sarah sesekali menirukan gerakan-gerakan nyanyian di
sekolahnya. Diikuti tawa Umminya yang katanya bekerja sebagai Dosen di sebuah
perguruan tinggi Islam di Watampone. Mereka terus berjalan ke arah asrama
tempat guru-guru tinggal. Alif tercekat melihat mereka, sampai keduanya hilang
dari pandangannya.
Tidak
lama kemudian, air mata Alif mulai menetes, mengalir, lalu mulai membanjiri
pipinya. Ia duduk disamping termos air minum susu sirup dingin sambil duduk dan
menutupi wajah dengan kedua lengannya. Ia teringat sosok Mamak dan adik
kecilnya di rumah. Ingatan itu memaksanya kembali untuk pulang, menolak
keputusan BAZNAS Enrekang yang menyatakan bahwa Ia lulus tes siswa berprestasi
untuk bersekolah berasrama gratis di Sekolah Islam Athirah Boarding School Bone.
Alif
lalu menuju kamar Ustad Haeruddin, Sosok paruh baya, kepala pembina asrama.
Mengetuk kamarnya dan mulai mengadu.
“Mau
ka pulang Ustadz....”
“Jammaq
dulu pulang, nak. di’? mau mi orang libur ini juga, nak.” Bujuk Ustadz yang cambang
di wajahnya cukup lebat itu.
“Mau
ka pale’ menelpon, ustad....” tawar Alif lagi, dengan air mata yang mulai
mengering.
Akhirnya
Sang Ustadz mengalah, dengan catatan tidak ngobrol lama karena waktu salat
magrib akan masuk. Alif menelpon, tetapi nomornya tidak aktif. Ia semakin kesal
karena Mamak dan bapaknya memang getol sekali menyekolahkan ia ke sekolah ini.
Pikirnya mungkin mereka sudah tidak sayang lagi padanya sehingga dibuangnyalah
Ia ke tempat ini.
Akhirnya,
terbersitlah sesuatu di benak Alif. Ia mengancam Mamaknya di kampung. Mulailah
ia mengetik sms pada Mamaknya. Dengan senyum menyeringai, Alif optimis Mamaknya
akan segera menjemputnya pulang ke kampung.
Setelah
mengembalikan ponsel ustadz haer, Alif kemudian berlari ke asrama. Ia takut
terlambat ke musholla untuk salat magrib. Ustadz haer yang menerima ponselnya
kembali, tidak sengaja membaca “pesan terkirim” yang lupa ditutup Alif.
“Mak,
dimanaki. Jemput ka besok. Atau cari ka Mamak baru. Alif” demikian bunyi pesan
singkatnya.
Ustad
lulusan Al Azhar Kairo, Mesir yang sudah bersiap untuk ke Musala, tidak dapat
menahan tawanya setelah membaca pesan Alif di layar ponselnya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sambil
berjalan menuju musala, Alif mulai berpikir, siapa kira-kira yang cocok
menggantikan Mamaknya. Sampai-sampai salat magribnya Alif pun menjadi tidak
khusyuk gara-gara disisipi pertanyaan siapa kira-kira yang cocok jadi “Mamak
baruku”?
Alif
sempat memilih Bu Ayu. Tapi Bu Ayu tidak tinggal di asrama. Ia setiap hari
harus pulang ke rumahnya, mengurus suami dan anaknya. lalu Pak Kholis, tetapi
Ia membatalkan karena Pak Kholis adalah laki-laki, sedangkan ancamannya adalah
pengganti Mamak, bukan bapak. Kalau istrinya Pak Kholis, lebih tidak mungkin
lagi karena Ia tidak mengenalnya, dan lagi, apakah sarah mau berbagi ibu dengan
Alif. Itu pun dipikirkannya. Ia semakin bingung.
Setelah
makan malam bersama usai salat magrib, Alif duduk sendiri di teras musala. Ia
menunduk sambil memijit-mijit keningnya. Semakin keras Alif berpikir, semakin
sakit kepalanya.
“Tidak
apa-apa jaki, nak?” sapa lembut Mom Eva sambil mengusap kepala Alif
“ah,
iye, mem. Ndak ji, mem” Jawab Alif yang sedikit terkejut.
Mom
Eva adalah Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan di SMP Islam Athirah Bone.
Perempuan paruh baya itu mengajar mata pelajaran bahasa inggris. Salah satu
guru favorit juga di sekolah itu. Suami dan anak Mom Eva tinggal di Makassar,
jadi, setiap bulan terkadang Mom Eva yang mengunjungi mereka ke Makassar, atau
sebaliknya.
“Ya
udah, masuk sana. Mem kira sedang galau. Endak ji toch?” tanya Mom Eva.
“emmm
emmm. Sebenarnya lagi galau ka’ mem” kuingatq lagi Mamakku..”Jawab Alif
tertunduk lesu.
“Kamu
ngapain galau? All of us here is family, keluarga, okey! Udah ya.. anggap Mom
ini sebagai ibu kamu, dan teman-teman di sini sebagai saudaramu. Yach, Okey,
Son?”
“Bener,
Mom? Makasih ya, Mom.” Alif tidak menyangka harapannya bak gayung bersambut.
Bahagia sekali hatinya saat itu.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Anak-anak,
libur idul adha akan dimulai pada hari Rabu pagi. Kalian bisa pulang mulai
pukul 09.00 pagi. Ingat, ya! Kalian harus kembali pada hari Minggu sore.
Dilarang terlambat. Paham? Ada pertanyaan?” Ujar Bu Ayu menyampaikan pengumuman
di hari Jumat sesaat sebelum jam pembelajaran terakhir usai.
“Horeeeeee..”
anak-anak menyambutnya dengan sangat antusias. Bahkan sampai ada yang
memukul-mukul meja.
Alif
sendiri merasa dilema, antara senang karena libur telah tiba, tetapi ada rasa
menyesal karena sebelumnya sudah mengancam akan mengganti Mamaknya. Tetapi Alif
sudah meyakinkan dirinya bahwa Ia tidak akan menghubungi Mamaknya lagi. Ia lalu
menuju ruangan Mom Eva setelah jam pembelajaran terakhir usai.
“Assalamualaikum...”
ucap Alif sambil mengetuk pintu ruangan Wakil Kepala Sekolah.
“Walaikumsalam,
masuk, nak!” Jawab Mem Eva dari balik pintu.
“Mem,
mau ka curhat...” ujar Alif
“Alif,,
masuk, nak. Sini!”
Tak
lama berselang, Alif lalu mulai mnceritakan masalahnya yang sering teringat
adik dan ibunya. Namun, selalu saja ponsel Mom Eva berdering.
“Sebentar
ya, nak!” Mom Eva kembali menyela cerita Alif
karena harus menjawab panggilan telepon.
“Iya,
Sayang.. nanti Ibu bawakan. Iya,,, Miss you honey.” Mom Eva menutup percakapan
dengan seseorang di seberang sana dengan suara terlembut dan termanisnya lalu
memutar kursinya kembali menghadap Alif yang terputus curhatannya.
“Maaf,
ya, Nak? Sampai dimana tadi?”Tanya Mom Eva.
Namun,
Alif diam saja. Ia berpikir bahwa Mom Eva tidak seperti Mamak yang senantiasa
mendengarkan keluh kesahnya. Sekalipun sedang
memasak, Mamak Alif terkadang lebih memilih menunda memasaknya demi
mendengarkan keluh kesah anaknya selama di sekolah. Ia juga biasanya langsung
memeluk Mamak tatkala sedang sedih atau ada masalah dengan temannya. Tetapi di
sini, Ia terhalang oleh meja cokelat besar ini. Jaraknya terlalu jauh untuk
menjangkau Mom Eva dan memeluknya sebagaimana Mamak.
“Alif,,,
Memangnya Alif tidak pulang? Kan dah mau lebaran.” Suara Perempuan paruh baya
yang selalu mengenakan blazer itu kembali memecah keheningan.
“Alif
takut, Mom,”
“Alif
takut Mamak ndak mau terima Alif lagi”
“Kemarin
Alif mengancam Mamak” terang Alif dengan gaya berbicara Enrekangnya yang khas.
Alif
lalu menceritakan semua isi sms ancamannya pada Mamak di kampung.
“Alif
ndak boleh berpikir seperti itu, Mom its still a Mom. Ibu tetaplah seorang Ibu.
Bagaimana pun besar kesalahan anaknya, pintu maaf selalu terbuka untuk anaknya.
She Always like that” Ujar Mom Eva memberi Alif nasihat.
Dengan
wajah tertunduk lesu, Alif sadar bahwa seorang Mamak tidak akan ada yang bisa
menggantikan perannya. Sekalipun Mamaknya tak pernah sekolah tinggi seperti Mom
Eva, Ia selalu ada dan memberikan yang terbaik buat Alif. Alif lalu mohon diri
pada Mom Eva.
Di
Asrama, teman-teman Alif sudah mulai mengemasi barangnya untuk libur 5 hari
yang diberikan sekolah untuk merayakan idul kurban bersama keluarga di kampung
halaman.
“Kamu
ndak beres-beres pulang, dek?”Tanya Kak Tama pada Alif yang mematung di depan
pintu kamar saat akan masuk. Masih dengan wajah yang kusut sepulang dari salat
Isya.
“mbok
ya udahan itu galaunya. Kan dah mau pulang, ini. Mestinya kan seneng.” Ujar Kak
Tama lagi dengan logat Jawanya yang sedikit medok. Ia memang blasteran Jawa
Bugis. Tetapi komunikasinya di rumah lebih dominan Jawa sehingga berpengaruh
pada logatnya.
Alif
masih tidak menjawab. Ia langsung nyelonong masuk, lalu naik ke lantai dua
ranjangnya, kemudian berbaring dan menarik selimut sampai di atas kepalanya.
Meringkuk, kemudian sesenggukan.
“Waduh,
masuk lagi deh pada Indonesia bagian galau” Sindir Kak Tama lagi.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Langit
seperti akan cerah hari ini. Pertanda itu muncul dari hiruk pikuk asrama yang
mulai menggeliat meski baru pukul 03.30 dini hari. Semangat santri-santri yang
akan pulang kampung mampu mengalahkan rasa kantuk untuk bangun salat tahajjud.
Setelah
salat subuh, para santri memilih langsung sarapan, mengingat agenda setelah itu
adalah membersihkan asrama sampai pukul 08.30, baru pada pukul 09.00 para
santri diizinkan meninggalkan sekolah.
Mobil-mobil
penjemput sudah mulai berdatangan sejak pukul 07.00, apalagi orang tua siswa
yang datang dari jauh semacam Toraja, Enrekang, dan Makassar. Beberapa orang
tua siswa memang memilih menjemput langsung anaknya, tetapi bagi yang punya
dana terbatas, mereka cukup memercayakan anaknya pada supir angkutan umum.
Pukul
08.30. para santri sudah siap dengan ransel dan kantong kresek masing-masing.
Teman-teman Alif yang berasal dari Enrekang pun sudah bersiap akan pulang.
Tetapi mereka melihat Alif belum juga mengemasi barang bawaannya.
“Alif,
kau tak pulang kah?” Tanya Albar dengan dahi mengernyit.
“Tidak
kapank” Ujar Rusdi sambil cengengesan membantu Alif menjawab pertanyaan Albar.
“Ndak
tau mi deh” Jawab Alif sekenanya. Ia menarik selimut lalu sesenggukan.
Akhirnya
semua teman-teman Alif berangkat pulang. Tinggal Alif sendiri di kamar meratapi
kesalahan dan nasibnya kini. Berlebaran di sekolah bareng satpam dan ce es.
Namun,
tidak berselang lama ada yang mengetuk-ngetuk pintu. Lalu menarik selimut Alif.
“Alif,,
Ayo, berangkat, Nak? Maaf Mamak terlambat. Lama tadi singgah Pak Sopir
istirahat di Masjid pas Salat Subuh. Bangunmi cepat, nak e.. bereskan mi cepat
bawaanta.”
Alif
seakan tidak percaya bahwa suara yang didengarnya adalah suara Mamaknya. Alif
lalu beranjak dari tempat tidur lalu memeluk Mamaknya erat, seakan tidak ingin
dilepasnya lagi.
“Maafin
Alif ya, Mak?” Ujar Alif dengan pelukan yang semakin erat.
Mamak
Alif heran, ada apa dengan anaknya.
“Kita’
kenapa, Nak?”
“Maafkan
ka’ soal sms kemaren, Mak!”
“sms
apa, Nak?” tanya Mamak Alif heran.
“Mamak
ndak baca kah?”
“sms
apa, Nak? Kita kirim sms kah? Ke nomor Mamak?”
“Iye,
Mak”
“Aih,,
kenapa ki’ sms ke nomor itu. Rusak mi itu nomornya. Na celupq minggu lalu
adikmu itu hapenya Mamak di kolam depan rumah. Jadi rusakmi nomor sama
hapenya.” Urai Mamak Alif panjang lebar.
“jadi
Mamak tidak baca smsnya?” Tanya Alif dengan wajah penuh harap.
“Tidak,
Nak. Apakah, Nak?” Tanya Mamak Alif tambah heran.
“ini
lagi saya tau ki’ libur dari Mamaknya Albar”
“ah,,,,
eng,,,,, endak ji, Mak” Alif jadi senyum senyum. Bersyukur Mamaknya tidak
membaca sms ancamannya. Dipeluknya lagi Mamaknya dengan dekapan yang lebih
erat.
Akhirnya,
Mobil Toyota Kijang kapsul tahun 2005 berwarna silver yang membawa Alif dan
Emaknya itu menderu-deru meninggalkan parkiran taman Sekolah Islam Athirah
Boarding Bone menuju Enrekang. Meninggalkan jejak sms ancaman Alif yang akan
mengganti Mamaknya dengan Mamak yang baru. Membuat Alif sadar bahwa Mamaknya
tidak akan pernah tergantikan.
Panyula, Agustus 2017

No comments:
Post a Comment