Dalam studi linguistik atau ilmu bahasa, perbincangan ihwal
kalimat lazimnya tidak langsung dimulai dari kalimat itu sendiri. Alasannya,
ilmu tata kalimat bermula dari tataran kata. Kata dalam bahasa Indonesia yang
jumlahnya luar biasa banyak itu mustahil dapat dipelajari dengan mudah kalau
tidak dikelas-kelaskan terlebih dahulu. Nah, hasil dari pengelaskataan atau
pengelompokan kata-kata itulah yang kemudian lazim disebut dengan kelas kata.
Banyak pakar bahasa yang ternyata telah berusaha membuat kelas-kelas kata dalam bahasa Indonesia. Nah, sebagai sekadar gambaran ihwal studi kelas kata yang telah dibuat oleh para ahli bahasa Melayu dan bahasa Indonesia itu dapat disebutkan berikut ini seperti yang dituliskan di dalam Kridalaksana (1994).
Pertama, pembagian kelas kata dalam tata bahasa pedagogis di
antaranya dapat disebutkan beberapa pakar berikut ini: (1) Joaness Roman pada
tahun 1653, (2) George Hendrik "Werndly pada tahun 1736, (3) William
Marsden pada tahun 1812, (4) John Crawfurd pada tahun 1852, (5) Raja Ali Haji
pada tahun 1857 dan tahun 1859, (6) J. J de Hollander pada tahun 1882, (7) Gerth
van Wijk pada tahun 1889, (8) Koewatin Sasrasoeganda pada tahun 1910, (9) Ch.
A. van Ophuysen pada tahun 1915, (10) R. O. Winstedt pada tahun 1914, (11) St.
Moehammad Zain (1943), (12) S. Takdir Alisjahbana (1953), (13) Madong Lubis
pada tahun 1954, (14) I. R. Poedjawijatna dan P. J. Zoetmulder pada tahun 1955,
(15) pada tahun 1957.
Selanjutnya kelas kata juga dilakukan oleh para pakar dalam
kerangka tata bahasa teknis. Terdapat lima orang tokoh yang dapat disebutkan di
sini, yakni (1) Slametmuljana pada tahun 1957, (2) Anton M. Moeliono pada tahun
1967, (3) S. Wojowasito pada tahun 1978, (4) M. Ramlan pada tahun 1985, dan (5)
Samsuri pada tahun 1985.
Tentu masih ada beberapa pakar lain yang belum disebutkan di
sini mengingat relevansi. Akan tetapi, dari informasi yang disampaikan di depan
diperoleh keterangan bahwa studi ihwal kelas kata sesungguhnya sudah dimulai
sejak lama. Banyaknya orang yang secara berturutan mengkaji kelas kata juga
sekaligus menunjukkan bahwa sesungguhnya kelas kata itu sangat penting untuk
dipahami oleh masyarakat pemakai bahasa Indonesia.
Para mahasiswa yang sedang
bersiap-siap untuk menyusun karya ilmiah sebagai tugas akhir di perguruan
tinggi, yang lazimnya berupa skripsi untuk S-l, benar-benar diharapkan memahami
segala seluk-beluk kelas kata seperti yang akan disampaikan berikut ini.
Tidak semua kelas kata akan ditampilkan di sini mengingat
relevansi dan kegunaan. Hanya beberapa kelas kata yang dipandang sangat penting
dan yang sering mengandung kesalahan di dalam penulisan yang akan disajikan.
Maka, cermati dan perhatikanlah dengan baik uraian berikut ini.
1.
Verba
Verba atau
kata kerja lazimnya dapat diidentifikasi dengan menggunakan tiga macam cara. Pertama, dengan mencermati bentuk morfologisnya. Kedua, dengan mencermati perilaku sintaksisnya. Ketiga, dengan mencermati perilaku semantisnya.
Secara umum, sebagai peranti untuk mengidentifikasi pula, verba atau kata kerja
itu dapat didampingi kata 'tidak' untuk menjadikannya negatif.
Berdasarkan
ciri morfologisnya, verba di dalam bahasa Indonesia dapat dibedakan menjadi (1)
verba dasar atau verba yang tidak berafiks, (2) verba berafiks, (3) verba yang
merupakan perulangan atau reduplikasi, dan (4) verba yang merupakan bentuk
majemuk. Verba yang merupakan perulangan misalnya adalah 'minum-minum, 'berjalan-jalari. Verba yang
merupakan bentuk majemuk misalnya adalah 'naik
haji', 'cuci muka'. Adapun untuk dua jenis yang disebutkan
sebelumnya, tidak perlu diberikan contoh di sini karena sudah sangat lazim.
Nah, berdasarkan
fungsinya atau sering disebut sebagai perilaku sintaksisnya, verba dapat
dibedakan menjadi (1) verba yang menduduki fungsi subjek, seperti 'Bekerja keras merupakan keharusan di zaman sekarang, (2) verba
yang menduduki posisi keterangan, misalnya Mereka
sedang berekreasi di belakang, (3) verba yang menduduki posisi
objek, misalnya 'Mereka
sedang mengajar membaca dan menulis', (4) verba
yang menduduki fungsi pelengkap, misalnya 'Mereka
tidak pernah mengeluh'. Kata kerja atau verba dapat dibedakan pula
berdasarkan pola interaksinya di dalam kalimat, misalnya ada bentuk 'saling membantah' yang
merupakan verba resiprokal, dan verba seperti pada umumnya yang tidak berciri
resiprokal.
Dari sisi
pembentukannya, verba juga dapat dibentuk dari nomina. Verba atau kata kerja
yang demikian ini disebut sebagai 'verba
denominal', misalnya verba ‘berbudaya dan
'mencangkul' yang dibentuk dari dasar nomina 'budaya dan 'cangkul'. Maka, verba demikian itu disebut sebagai
verba denominal. Selain verba denominal, ada pula verba deadjektival, seperti 'mencintai', 'menyakiti'. Adapun
verba yang berciri deadverbial misalnya adalah
'mengakhiri' dan
'mengawali'.
Dalam studi
bahasa juga dikenal verba yang tidak pernah dapat dipasifkan, misalnya saja 'meninggal' dan 'mengeong. Tentu saja,
tidak akan pernah ada verba pasif yang dihasilkan dari verba itu. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa verba demikian ini bersifat antipasif. Selain
verba antipasif, dalam studi bahasa juga dikenal verba ergatif, seperti 'tersandung dan 'terantuk'.
Nah,
sekarang cermatilah cuplikan teks berikut ini, lalu cermatilah bentuk-bentuk
verbanya. Sebut atau namailah verba yang hadir bermacam-macam itu, supaya Anda
memiliki pengalaman dalam mengidentifikasi verba di dalam kalimat.
2.
Adjektiva
Adjektiva
lazim disebut juga kata sifat. Dari dimensi wujud atau bentuknya dapat dikenali
adjektiva dasar, seperti
'cantik', 'adil'. Demikian pula ada
adjektiva yang sifatnya jadian atau turunan, misalnya 'alamiati, 'gerejawi', 'surgawi'.
Jenis
berikutnya adalah adjektiva yang dari dimensi bentuknya merupakan gabungan atau
perpaduan dua adjektiva, misalnya
'cantik jelita' dan 'aman sentausa'. Adjektiva
perpaduan dapat dibedakan lagi menjadi dua, yakni perpaduan yang sifatnya
subordinatif, seperti bentuk
'panjang tangan dan 'murah hati'
dan perpaduan yang bersifat koordinatif, misalnya 'cantik jelita'
dan 'aman sentausa'
seperti ditunjukkan di bagian depan. Adjektiva juga dapat dinegasikan dengan
menggunakan kata
'tidak', persis yang terjadi pada verba atau
kata kerja. Jadi, bentuk seperti
'tidak hijau' atau 'tidak pintar'
adalah bentuk yang benar.
Ciri
lain yang harus diketahui adalah bahwa adjektiva itu dapat didampingi oleh
kata-kata berikut,
'sangat', 'agak', 'lebih', 'paling'.
Maka, ada bentuk
'sangat pandai' tetapi tidak akan
pernah ada bentuk
'sangat duduk' atau 'sangat berdiri'.
Jadi, kata- kata yang disebutkan di atas berkolokasi dengan kata sifat atau
adjektiva.
3.
Nomina
Nomina
disebut juga kata benda. Dari dimensi bentuknya, nomina dapat dibedakan menjadi
dua, yakni nomina dasar dan nomina bentukan atau turunan. Disebut sebagai
nomina dasar karena nomina itu menjadi dasar untuk kata bentukan yang
berikutnya. Jadi, nomina dasar adalah nomina yang belum mendapatkan imbuhan apa
pun. Sebagai contoh, kita ambil saja kata 'buku,
'meja', 'rumah'.
Selanjutnya,
nomina dasar seperti disebutkan di atas itu dapat dibentuk menjadi nomina
turunan dengan alternatif-alternatif berikut ini:
a)
dengan
imbuhan 'ke-': kehendak,
ketua, kekasih;
b)
dengan
imbuhan 'per-': pertanda,
persegi, persetan;
c)
dengan
imbuhan 'pe-': petani,
petembak, petinju, petapa;
d)
dengan
imbuhan 'peng-': pengacara,
pengacau, pengantar;
e)
dengan
imbuhan '-an': tulisan,
bacaan, kiriman, bidikan, bisikan;
f)
dengan imbuhan
'peng-an': pengadilan,
pengampunan, pengumpulan;
g)
dengan
imbuhan 'per-an': persatuan,
persemaian, perdamaian, pertahanan, perkumpulan;
h)
dengan
imbuhan 'ke-an':
kemerdekaan, kesatuan, kesehatan.
Ciri lain
dari nomina, selain yang disebutkan di depan, khususnya bahwa nomina tidak dapat
didahului oleh partikel 'tidak' adalah
bahwa nomina itu memiliki potensi untuk diawali preposisi atau kata depan 'dari'. Berkenaan dengan ini, cobalah nomina-nomina
yang disampaikan di depan itu dilekati dengan 'dari' di
depannya. Kalau bentuk itu berterima, bentuk kebahasaan itu dapat dianggap
sebagai bentuk benar. Dalam kalimat, nomina bisa menduduki pelbagai fungsi.
4.
Pronomina
Pronomina
disebut juga kata ganti. Dikatakan sebagai kata ganti karena sesungguhnya
pronomina itu berfungsi menggantikan nomina yang menjadi antesedennya. Dengan
pemakaian pronomina di dalam kalimat, pengulangan nomina akan dapat dihindari.
Dari sisi
bentuknya, nomina dapat dibedakan menjadi (1) nomina persona, (2) nomina
penunjuk, dan (3) nomina penanya. Nomina persona dapat menunjuk pada orang,
baik dalam hitungan tunggal maupun jamak. Maka, kemudian ada pronomina persona
tunggal dan pronomina persona jamak. Pronomina persona tunggal dapat mencakup 'saya', 'aku', 'daku', dan '-ku. Pronomina persona jamak adalah 'kami' dan 'kamu',
'kalian', 'mereka', 'kita.
Selain
menunjuk pada persona, pronomina juga dapat merupakan nomina penunjuk seperti 'itu, 'ini', 'sana, 'sini', 'anu'. Pronomina
dapat juga berfungsi sebagai pronomina penanya, misalnya 'mengapa', 'kenapa, 'bagaimana, 'yang mana', 'dari mana'. Pronomina
juga dapat dibedakan menjadi pronomina yang sifatnya intertekstual, yakni yang
menunjuk nomina dalam kalimat yang sama, atau nomina yang sifatnya
antartekstual, yakni yang menunjuk pada nomina pada kalimat yang berbeda.
Kalimat seperti, 'Karena
ketekunannya, Vendi berhasil gemilang jelas
sekali mengandung pronomina wjw'yang menunjuk pada nomina Vendi pada kalimat
yang sama. Akan tetapi, kalimat seperti 'Saya tidak
menyukai tingkahnya yang tidak sopan itu jelas
sekali kelihatan bahwa pronomina 'nya itu tidak
menunjuk pada nomina yang ada pada kalimat itu.
5.
Numeralia
Numeralia
sering disebut juga kata bilangan. Kata itu digunakan untuk menghitung jumlah
orang, binatang, barang, dan juga sebuah konsep. Bentuk seperti iima hari"
atau 'beberapa masalah' di dalamnya terkandung numeralia, yakni lima' dan
'beberapa'. Dalam bahasa Indonesia dibedakan dua macam numeralia, yakni
numeralia pokok dan numeralia tingkat. Numeralia pokok digunakan untuk menjawab
pertanyaan 'berapa, sedangkan numeralia tingkat digunakan untuk menjawab
pertanyaan 'yang keberapa'. Sebutan lain untuk numeralia pokok adalah numeralia
kardinal, sedangkan sebutan lain untuk nomina tingkat adalah numeralia ordinal.
Selanjutnya
dapat diperinci lebih lanjut, yakni bahwa numeralia pokok dapat menjadi (a)
numeralia pokok tentu, (b) numeralia pokok kolektif, (c) numeralia pokok
distributif, dan (d) numeralia pokok tak tentu. Numeralia pokok tentu misalnya
saja, 'dua, 'tiga', 'seratus'. Numeralia
pokok kolektif misalnya adalah, 'ketiga pada bentuk
'ketiga pemain itu terjatuh, 'berlima' pada bentuk 'kamu berlima. Nomina pokok distributif
misalnya adalah 'satu-satu yang
artinya 'satu demi satu' atau 'masing-masing satu'. Bentuk 'setiap' atau 'tiap-tiap' dan 'masing-masing adalah nomina distributif.
Adapun yang dimaksud dengan numeralia pokok tak tentu adalah nomina yang
jumlahnya tidak pasti. Numeralia tak tentu tidak dapat digunakan untuk menjawab
pertanyaan 'berapa'. Contohnya
adalah 'berbagai', 'segenap', 'seluruh', 'semua. Di dalam
perbincangan ihwal numeralia pokok atau numeralia kardinal juga ada yang
disebut numeralia pokok klitika seperti misalnya, 'ekawarna' atau
'pancawarna. Penulisan numeralia pokok klitika harus disatukan dengan nomina
yang dilekatinya itu.
Selanjutnya
yang dimaksud dengan numeralia tingkat adalah numeralia yang menunjukkan urutan
atau tingkatan. Bentuk 'kelima' pada bentuk 'pemain kelima' adalah numeralia
tingkat, sedangkan pada bentuk 'kelima pemain' adalah numeralia pokok kolektif.
6.
Adverbial
Adverbia sering disebut pula kata keterangan. Dapat
dikatakan sebagai kata keterangan karena kata itu memberikan keterangan pada
verba, adjektiva, nomina predikatif, atau pada kalimat secara keseluruhan.
Dapat pula sebuah kata adverbia menjelaskan adverbia lain yang ada pada kalimat
itu.
Dari dimensi bentuknya, terdapat dua macam adverbia dalam
bahasa Indonesia, yakni adverbia monomorfemis dan adverbia polimorfemis.
Dikatakan sebagai adverbia monomorfemis karena adverbia itu hanya terdiri dari
satu morfem atau satu bentuk seperti 'sangat', 'hanya', 'segera', 'agak', 'akan'. Dapat dikatakan sebagai adverbia polimorfemis karena
bentuknya lebih dari satu morfem, misalnya 'belum tentu', 'jangan-jangan', 'lebih-lebih', 'mula-mula',
'mau tidak mau, 'tidak mungkin', 'pada mulanya, 'sunggnh-sungguh',
'benar-benar'.
Dari sisi perilaku sintaksisnya, adverbia dapat merupakan
kata yang mendahului kata yang diterangkan, seperti pada 'Puisi itu sangat indah'. Kata 'sangat'
adalah 'adverbia' dan tugasnya adalah menjelaskan 'indah' yang berada di belakangnya. Ada juga adverbia yang berada
di belakang kata yang dijelaskan, misalnya 'Jahat benar kelakuan anak itu.' Kata 'benar'
adalah
'adverbia' dan dia menjelaskan kata 'jahat yang telah mendahului hadir di depannya.
Ada pula bentuk kebahasaan yang menunjukkan bahwa adverbia
berada baik di depan maupun di belakang bentuk yang diterangkan itu. Misalnya
saja, 'Anak
itu memang sangat pandai sekali' atau kalimat 'Kami hanya sekadar membenahi saja kesalahan kebahasaan
itu. Bentuk yang disebutkan
terakhir ini tidak banyak digunakan dalam bahasa tulis karena sifatnya yang
tidak baku.
Demikian pula. bentuk kebahasaan seperti 'Mahal amat harga
buku ini.' Bentuk di atas itu pun hanya banyak digunakan dalam bahasa lisan,
bukan bahasa tulis. Nah, sekarang periksalah kutipan teks ilmiah berikut ini,
lalu identifikasilah bermacam- macam adverbia yang ada.
7.
Interogativa
Selanjutnya,
interogativa adalah kata yang berfungsi untuk meminta informasi tertentu kepada
orang lain. Dengan perkataan lain, interogativa adalah kata yang digunakan untuk
menanyakan sesuatu. Interogativa dalam bahasa Indonesia itu mencakup, misalnya 'saja, 'apa', 'siapa, 'berapa', 'mana', 'yang mana', 'mengapa',
dan 'kapan'.
8.
Demonstrativa
Demonstrativa
adalah kata yang dapat difungsikan untuk menunjukkan sesuatu yang berada di
dalam atau di luar sebuah teks atau wacana. Sesuatu yang disebut baik di luar
maupun di dalam teks itu disebut dengan
'anteseden'. Adapun kata yang dapat disebut sebagai demonstrativa itu dapat
mencakup 'ini', 'itu, 'sana, 'situ',
'berikut', 'begitu'.
9.
Artikula
Artikula di
dalam bahasa Indonesia sangat terbatas jumlahnya. Relatif tidak ada persoalan
dengan pemakaian artikula dalam teks atau wacana. Partikel yang lazim ditemukan
dan digunakan itu di antaranya adalah 'si',
'sang, 'para, 'sri\ Fungsi artikula adalah untuk membatasi makna
nomina.
Dalam bahasa
Indonesia dapat dibedakan artikula yang menunjuk pada gelar tertentu seperti 'sri', 'sang', 'hang, dan 'dang. Artikula yang menunjuk pada kelompok
misalnya adalah 'para',
'kaum, dan 'umat'. Jenis
artikula terakhir bertugas menominalisasikan kata yang belum berupa nomina.
Penominalan itu dilakukan dengan menggunakan bentuk 'si' seperti pada bentuk 'si manis atau 'si hitam'.
Dalam
konteks tertentu, artikula yang digunakan bersama nama orang akan
mengonotasikan makna 'tidak suka atau 'mengejek'. Misalnya saja adalah 'si Kunjono' atau 'si Ali' atau 'si
terdakwa atau 'si
tersangka.
10.
Preposisi
Preposisi
atau kata depan lazimnya hadir di depan kata lain di dalam kalimat. Lazimnya,
preposisi itu berada di depan nomina, adjektiva, dan adverbial. Nah, kata yang
didahului preposisi atau kata depan itu akan membentuk frasa atau kelompok
kata. Maka, lalu ada frasa nominal, frasa adverbial, dan frasa adjektival.
Preposisi dapat dibedakan menjadi bermacam-macam, ada yang sifatnya dasar,
tetapi ada pula yang sifatnya turunan.
Bentuk
seperti 'di', 'ke', 'dari', 'pada', dan 'demi' tergolong preposisi atau kata depan yang
sifatnya dasar, sedangkan bentuk seperti 'di
antara', 'di samping, 'dari luar', 'ke dalam', 'di dalam', 'di atas, 'di
bawah', semuanya tergolong preposisi yang sifatnya sudah merupakan
turunan.
Sering ditemukan pula bahwa preposisi itu berafiks, misalnya saja 'bersama',
'menurut', 'menjelang, 'beserta', 'seantero', 'sekeliling', 'sekitar',
'sepanjang, 'terhadap', 'seluruh', 'bagaikan', 'mengenai', 'melalui'. Preposisi atau kata depan juga ada yang berciri ko relatif,
misalnya saja 'antara.. .dan', 'dari.. .sehingga', 'dari.. .sampai', 'dari...
hingga', 'sampai.. .dengan', 'dari...sampai ke.
11.
Konjungsi
Konjungsi
atau kata penghubung berfungsi untuk menghubung entitas-entitas kebahasaan di
dalam sebuah kalimat. Konjungsi juga dapat digunakan untuk meng- hubungkan
entitas-entitas kebahasaan yang ada pada kalimat yang satu dengan kalimat yang
lainnya.
Menurut
fungsinya, konjungsi dapat dibedakan menjadi (a) konjungsi koordinatif, yakni
konjungsi yang bertugas menghubungkan satuan-satuan kebahasaan yang sejajar,
(b) konjungsi subordinatif, yakni konjungsi yang bertugas menghubungkan satuan-
satuan kebahasaan yang tidak sejajar karena yang satu merupakan induk kalimat
dan yang lainnya merupakan anak kalimat, (c) konjungsi korelatif, yakni
konjungsi yang kehadirannya mensyaratkan kehadiran konjungsi yang lainnya
karena bentuk-bentuk kebahasaan itu memang saling berkorelasi.
Jenis yang
pertama dapat disebutkan misalnya 'dan',
'maka', 'tetapi', 'melainkan', 'sedangkan'. Jenis yang
kedua dapat disebutkan misalnya 'karena,
'sehingga.', 'jika', 'sebab', 'ketika'. Adapun
jenis yang ketiga dapat disebutkan misalnya 'antara..
.dan', 'tidak.. .tetapi', 'baik.. .maupun', 'bukan.. .melainkan'. Nah,
berdasarkan posisinya, ada yang disebut sebagai konjungsi intrakalimat dan
konjungsi antarkalimat.
Konjungsi
intrakalimat menghubungkan entitas kebahasaan yang ada dalam kalimat, sedangkan
konjungsi antarkalimat menghubungkan entitas kebahasaan yang ada dalam sebuah
kalimat dengan entitas kebahasaan yang berada di luar kalimat itu. Baik
konjungsi koordinatif, subordinatif, maupun korelatif semuanya termasuk
konjungsi intrakalimat kalau diperiksa berdasarkan posisinya.
Adapun konjungsi antarkalimat itu akan mencakup konjungsi seperti 'oleh
karena itu, 'maka dari itu , selanjutnya.', 'oleh sebab itu, 'walaupun
demikian, 'dengan demikian', 'tambahan pula, 'lagi pula.
12.
Interjeksi
Interjeksi
sering pula disebut kata seru. Kata ini bertugas mengungkapkan rasa hati
seseorang. Interjeksi tidak memiliki hubungan dengan unsur lain di dalam
kalimat. Juga dengan kalimat yang menyertai kata seru atau interjeksi itu.
Jadi,
fungsinya semata-mata untuk mengungkap perasaan itu. Beberapa interjeksi dapat
disebutkan di sini: 'syukur',
'nah', 'sialan', 'idih', 'aduh', 'astaga', 'alhamdulillah', 'masyaallah',
'astagfirullah', 'aduhai', 'asyik', dan
beberapa lagi yang lainnya.
Sumber:
Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum. 2010. Bahasa
Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Penerbit Erlangga dalam Diktat Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi

No comments:
Post a Comment