SEMINAR REMAJA MUSLIM
KUTUNGGU ENGKAU DI PELAMINAN SUCI
Ahad, 26 September 2010
Pukul 09.30 Wita
Pembicara : Askaryaman, S.Pd.
Panitia :Lembaga Dakwah Kampus Darul Ilmi Bulukumba
Gedung JSN 45 Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Sebuah Penegasan Haramnya Pacaran
Fitrah manusia di muka bumi ini salah satunya adalah diciptakan berpasang-pasangan. selayaknya makhluk lain di dunia. Oleh sebab itu, islam menunjukkan aturan-aturan yang dipakai dalam mengatur bagaimana manusia mendapatkan pasangan hidupnya.
Pasangan hidup yang halal diperoleh lewat jalur pernikahan yang sah sesuai agama dan hukum yang berlaku. Fenomena awam yang terjadi disekitar kita khususnya di lingkungan remaja adalah kehidupan berpasangan di luar nikah yang lazim disebut “pacaran”. Terbentuk cara pandang dalam pergaulan mereka bahwa seorang remaja dikatakan ketinggalan bila tidak memikili pasangan (pacar) sehingga diantara mereka menjadi minder dan berusaha bagaimana memperoleh pasangan lawan jenis sebagaimana yang dialami rekan-rekannya yang lain. Itulah salah satu gambaran terpuruknya akhlak remaja kita saat ini yang selalu memakai budaya barat sebagai kiblat dan mulai meninggalkan ajaran Alqur’an dan Assunnah.
Seminar sehari yang menghadirkan Ustadz Askaryaman, S.Pd. dari Makassar ini mengulas seluk beluk remaja. Bagaimana kehidupan asmara remaja saat ini, masalah yang mereka alami, serta arahan yang baik bagi remaja. Guru SMKN 1 makassar ini menerangkan pentingnya menikah bagi muslimin dan muslimat yang telah memenuhi semua persyaratan wajib nikah demi menghindari bahaya pergaulan bebas, bila mereka belum mampu menikah maka dianjurkan untuk berpuasa. Selain itu beliau juga menerangkan bahwa pacaran hanya menimbulkan mudharat yang besar bagi remaja tanpa mendatangkan manfaat. Sekalipun itu dengan menggunakan dalih pacaran yang islami. Karena dalam agama islam pun tidak mengenal pacaran seperti itu. semua itu hanyalah sebuah upaya melegitimasi agama demi kepentingan nafsu syahwat.
Pacaran adalah sebuah komitmen yang semu. Menimbulkan banyak kerugian bagi kedua belah pihak yang menjalaninya, utamanya bagi kaum wanita yang mana berada di posisi yang lebih banyak dirugikan. Pacaran dapat menutup pintu jodoh bagi seorang wanita karena mereka cenderung hanya kepada pacarnya , sedangkan ketetapan jodoh hanya Allah yang tahu kepastiannya. Bisa jadi lelaki yang mereka pacari nantinya memilih wanita lain untuk dinikahi, sedangkan di sisi lain si wanita terlanjur menunggunya hingga menolak lamaran lelaki lain yang berniat untuk menikahinya. Bukankah ini adalah sebuah kerugian besar bagi dirinya?
Pacaran adalah tahapan dapat mengantar kita menuju perzinahan. Segala aktifitas di dalamnya mengandung unsure dosa. Saling menatap dengan syahwat, berkhalwat (berdua-duaan), berpegangan tangan, berpelukan, hingga yang paling parang adalah sampai pada melakukan perzinahan yang kesemuanya adalah dosa.
Allah menganjurkan agar saling mencintai antar sesame manusia. Al Qur’an memberikan tuntunan untuk segala kebutuhan manusia. Tidak terkecuali dalam hal hubungan antar lawan jenis . Ini bertujuan agar manusia bisa dibedakan dengan hewan yang hanya memakai nafsu saja, berbeda dengan manusia yang mempunyai akal dan pikiran. Tuntunan-tuntunan yang ada dalam Al Qur’an dan Al Hadis menghindarkan kita jatuh ke lubang kenistaan yang dapat merendahkan harkat dan martabat serta kedudukan kita sebagai makhluk yang paling mulia di muka bumi.
Oleh sebab itu kita dianjurkan untuk menikah. Karena dengan menikah kita termasuk orang yang telah menyempurnakan agama kita. pernikahan adalah sunnah rasulullah yang didalamnya bernilai pahala dan kenikmatan yang besar. Di dalamnya tercipta kasih sayang dan membuat pelakunya menjaga pandangan dan kehormatan. Kita dapat menghasilkan generasi penerus yang dapat melanjutkan keturunan kita karena sesuai nasab dari anak yang dilahirkan istri kita. Selain itu pernikahan menghindarkan kita dari penyakit-penyakit kotor sejenis Aids, sipilis, dan lain sebagainya.
Setiap guru dan orang tua dihimbau agar memberikan nasehat dan arahan yang tidak terlalu keras dalam menyampaikan laranganberpacaran ini kepada kaum remaja. Selain emosi mereka yang labil, masa pubertas yang sedang mereka alami, juga saat para remaja masih mencari bentuk dan jati diri mereka sebagai manusia. Jangan sampai kita membuat agama bagi mereka menjadi momok yang menakutkan dan mengekang kehidupan mereka dengan semua larangan-larangan yang tidak populer dengan apa yang sedang mereka jalani. Tetapi kita harus menjadikan agama sebagai sumber motivasi mereka dalam mengarungi kehidupan.
mantap..
ReplyDeletemakin hebat nih..
hahahahaha... bisa saja sodara ini! sedang belajar ini cz,, mumpung lagi dapat mata kuliah jurnalistik. sekalian diaplikasikan materinya toh!!
ReplyDelete