Thursday, March 27, 2014
PEMBUKAAN FESTIVAL ANAK SHALEH INDONESIA (FASI) Tingkat Propinsi Sulsel
Monday, March 17, 2014
Pelaksanaan UTS Semester Genap: Generasi Jujur Generasi Masa Depan Athirah Boarding School
mewujudkan generasi pemimpin jujur di masa depan.
Saturday, March 8, 2014
Terima Kasih, Ada Buat Kami : Peringatan Hari Jadi Guru Athirah Bone
Thursday, February 20, 2014
Athirah Olympic : Ajang Adu Kreasi di Seni Tari
Cerdas Berekspresi di Athirah Olympic Season II
Monday, August 8, 2011
Pujian yang menakutkan
Pujian Yang Menakutkan
Malam itu, saat saya sedang smsan dengan seorang teman wanita. Pada sebuah pesan saya menjelaskan tentang pentingnya membaca dan mengupgrade informasi. Setelah saya uraikan panjang pada pesan singkat yang saya kirim, dia kemudian melontarkan pujiannya, betapa saya adalah sosok yang cerdas.
Bila menggunakan pola pikir konvensional, tentu hal itu menambah saldo pujian yang telah masuk buat saya, dan idealnya bisa membuat saya lebih tinggi hati dan sedikit merasa berbangga. Namun berangkat dari hal itu, saya mulai merenung bahwa ternyata semua itu belum cukup untuk membuat saya seperti itu. Malah yang ada, pujian itu membuat saya menjadi terbebani. Terbebani oleh expectasi (harapan) yang besar dari mereka. Tentunya teman wanita saya itu punya alasan kenapa harus susah-susah memuji saya.
Saat itu saya mulai berpikir, ternyata selama ini saya seperti hidup dalam sebuah kurungan, kurungan yang dilabeli dengan pujian. Sebuah control sosial yang keliahatannya positif, tetapi bisa menggiring kita ke dalam perilaku dan sifat negative. Sebuah pujian ternyata dapat menuntun seseorang untuk sadar bahwa sebenarnya dalam pujian itu terdapat perintah bahwa selayaknya kita harus menyelaraskan dan mengkonsistensikan antara pujian yang dilontarkan dengan kenyataan yang kita alami dan yang akan kita alami.
Pujian itu akhirnya dapat menjadi sebuah batasan buat kita agar tidak melanggar norma-norma yang telah dibatasi oleh pemuji. Segala perilaku dan sikap yang kita ambil akan lebih terarah dan kita bisa lebih memperhatikan apakah itu pantas atau tidak kita lakukan. Sedikit saja kita salah melangkah, mereka akan menyoroti kita, yang akhirnya pujian itu malah menjadi cacian sebagai buntut dari sikap skeptis yang muncul saat mereka melihat kita tidak berperilaku sebagaimana yang mereka pujikan.
Sekalipun kita bukan orang suci, setidaknya setengah dari harapan mereka bisa kita penuhi. Seperti sebuah kredo yang menyatakan bahwa bila kita menginginkan sebuah sepeda motor, maka bermimpilah bisa membeli sebuah mobil, karena usaha maksimal yang kita kerahkan setidaknya dapat membuahkan setengah dari mimpi kita sebelumnya.
Bercermin dari pujian itu tidak selalu salah, mengingat sifatnya yang obyektif. Tapi kita jangan lupa bahwa kita juga punya kepribadian sendiri. Keperibadian yang membentuk karakter kita. Kita tidak harus sepenuhnya menjadi manusia bentukan persepsi manusia lain. Karakter dan prinsip pribadi yang menurut kita baik harus tetap kita pertahankan. Itu identitas kita.
Kita bisa buat kesimpulan bahwa pesan yang dikatakan pendahulu kita kalau jangan terlena dengan pujian itu 99% benar. (aku tidak mengatakan 100% karena sesuatu bisa berubah di lain hari, jadi 1 %nya kita simpan buat masa depan) Jadi, Selama sebuah pujian itu sifatnya membangun dan memotivasi, why not. Yang penting jangan bersikap selfish sampai jadi orang apatis, karena itu yang bisa membangun persepsi orang bahwa kita orang yang sombong. Sebuah kata yang kurang popular buat penggemar kita (narsis dikit halal kan.hehehehe)
Wednesday, August 3, 2011
kirain lama taunya cepet lho! Salut.

singkat cerita begitu saya ketemu dengan penjaga yang saya maksud, semua keluhan saya sampaikan (tp dengan kt2 yg lebih sopan tentux). Dengan muka menyesal ia memutuskan untuk mengganti pulsa saya yg hilang itu dengan uang 40.rb sbg bentuk tanggung jawab atas kekurangan pulsa yang dimaksud meski sebelumnya menyarankan saya untuk ke Grapari terdekat. kaget juga sebenarnya, karena diluar perkiraan dan prasangka saya.Saat hendak menyerahkan uang tersebut, saya putuskan untuk tidak menerimanya dan mengatakan agar uang itu diganti pulsa saja sehingga dia tidak merasa merugi.
akhirnya,, lepas beban pikiran yang dah ngendon sedari siang. lega rasanya bisa menyelesaikan dengan baik with win-win solution. andai saja semua penjual pulsa seperti itu dan sadar atas kesalahan serta tau bagaimana memperlakukan konsumen saya rasa korupsi akan mudah dibrantas (lho! apa hubungannya yach??). Tau' deh, yang penting pulsa gw balik dan bisa kembali menjelajah dunia maya d bulan puasa ini.. lets go!!! go Fast (meski "lama.......")
Meningkatkan Kualitas Pendidikan Indonesian Melalui Peran dan Kontribusi Perguruan Tinggi
Oleh Dosen IAIN Bone_ Evelina Satriya Salam, S.Pd.,M.Pd. Pendidikan merupakan pilar utama kemajuan suatu bangsa, dan guru adalah jan...
-
Oleh Dosen IAIN Bone_ Evelina Satriya Salam, S.Pd.,M.Pd. Pendidikan merupakan pilar utama kemajuan suatu bangsa, dan guru adalah jan...
-
Sekarang saatnya menguji kemampuanmu dalam SKL Sastra Bahasa Indonesia SMA menyongsong Ujian Nasional 2015. Download di sini soalnya ya.....
-
Budaya Membaca Masih Memprihatinkan Laporan wartawan KOMPAS Ester Lince Napitupulu Kamis, 7 Oktober 2010 | 19:57 WIB KOMPAS/ARBAIN RAMBEY Me...
