Doa Kakek Becak
Oleh: Nurholis
Mentari
yang muncul di ufuk timur kali ini tak biasanya kusambut dengan perasaan
gundah. Sebaris kalimat yang terlontar dari kepala SMP Negeri 8 tempo hari membuat aku dan seluruh
teman-teman mahasiswa peserta PPL menjadi tersulut emosinya. Sebuah kalimat
yang membanding-bandingkan kami dengan mahasiswa yang mengadakan PPL di sekolah
tersebut tahun sebelumnya. Kami jadi
geram dan ingin membuktikan bahwa kami tidak bisa dibandingkan dengan mereka.
Sejenak aku berpikir bahwa ini hanyalah upaya provokatif dari beliau agar kami
mau berbuat lebih dan mengeluarkan dana untuk sekolah. Hikmah kembali harus
kugali dari peristiwa itu. Mencoba bersikap tenang dan berusaha menenangkan
yang lain. Tetapi harus tetap dihadapi dengan kepala dingin.
Deru
laju bebek honda oranye setia membawaku menuju gedung-gedung sekolah jingga bantuan pendidikan Australia. Menjadi tempat
harapan bangsa mengais asa. Uang hasil patungan telah kami kumpulkan. Program
terakhir perkuliahan disana adalah
memberikan kesan yang baik dan meninggalkan sesuatu yang kiranya dapat
bermanfaat buat anak-anak didik “sementara” kami. Rak-rak perpustakaan akan
kami penuhi dengan deret buku sastra dan kamus-kamus tebal. Laboratoriumnya pun
akan kami hias dengan manekin rangka dan display IPA yang interaktif dan memicu
kuriositas siswa.
Sepeda
motor telah terstandar, kumiringkan ke kiri. Turun dengan pasti. Setelah kubagi
senyum pada siswa dan beberapa guru yang melintas, kulangkahkan kaki menuju
ruang UKS, sebuah ruangan yang sengaja disiapkan sebagai home base mahasiswa
yang sedang mendapat tugas mengajar. Di sana sudah menunggu Kahar dan Amir yang
jarak rumahnya cukup jauh dari sekolah. Empat teman perempuan kami yang lain
sepertinya akan datang sebentar lagi.
Rapat
pagi itu aku pimpin tanpa Kahar yang sedang mendapat tugas mengajar pada jam
pertama bersama Suriani.
“Hari
ini kita akan buktikan bahwa kita beda dengan angkatan XII” lirih pasti aku menyemangati
mahasiswa yang mengikuti rapat kecil kami.
“Besok
aku akan ke Makassar untuk membeli buku dan alat peraga laboratoriumnya.”
“Terima
kasih atas partisipasi semuanya, sehingga dananya bisa terkumpul”
Setelah
meminta izin pada guru pamong, Aku kembali menggeber motor menuju Bank. Niatku
untuk menyetorkan sejumlah uang agar esok pagi saat berangkat, aku tinggal
membawa kartu ATM saja. Sepeda motor ku pacu laju. Tak sampai 15 menit aku
telah tiba di tempat parkir salah satu bank nasional. Saat aku turun, kurogoh
kantong jas kuningku. Jantungku seketika berdegup kencang tatkala apa yang aku
cari tidak juga aku temukan. Dua kantong jas kuningku, saku celana, kantong di
kemejaku, tak ada yang lolos dari pencarian. Aku mulai panik. Aku ingat-ingat
lagi, dimana aku menaruh buku tabungan dan sejumlah uang yang ku selipkan di
dalamnya.
Aku
coba mengingatnya lebih keras. Di pelataran parkir yang terik siang itu
keringat mulai bercucuran. Uang empat ratus ribu itu bukan jumlah yang sedikit,
pikirku. Aku berbalik menuju sekolah dimana aku memulai perjalanan. Perlahan
aku sapu pandangan setiap jejak yang aku tinggalkan. Nihil. Setiba di sekolah,
aku periksa kembali tas bawaanku kalau-kalau aku memang lupa membawanya.
Ternyata tidak.Lalu aku sisir jalan di sepanjang perjalananku kembali ke Bank.
Tak juga kutemukan. Hingga tiga kali bolak-balik. Akhirnya aku menyerah. Aku
relakan uang tersebut beserta buku tabunganku. Duduk pasrah di depan pintu
dorong kantor dengan peluh membasahi jas almamaterku.
Segera
setelah itu aku melaporkan kehilanganku pada pihak Bank dan membuat janji untuk
membuat buku tabungan yang baru. Kakak di bagian layanan konsumen meyakinkanku
kalau tabunganku tetap aman karena penarikan tunai lewat buku tabungan harus
disertai kartu identitas dan tanda tangan pemilik rekening.
Dengan
langkah gontai aku masuk ke rumah sekembalinya dari sekolah. Hari ini seperti
menjadi moment yang berat. Mau tidak mau aku harus mengganti kehilangan uang
itu. Aku ambil segelas air dan duduk di ruang makan dengan tatapan kosong.
Merenungi dimana gerangan buku tabungan dan uang di dalamnya.
***
Rumah
terasa sepi. Ibu sedang di Toko, sedang yang lainnya entah kemana. Ponsel di
tas ranselku berdering bersahutan. Saat kuangkat suara cempreng adikku langsung
saja menghantam bagai kereta api yang melintas di balik palang pintu rel kereta
di jalan raya.
“Mas,
Kamu dimana? Bapak Kecelakaan. Sekarang aku di rumah sakit. Tapi ga papa, kok. Kakinya ini saja yang luka
sobek di bagian jemarinya. Sebentar lagi aku, pulang! Kasih tau ibu, ga usah
kuatir. Udah dulu, ya!! Cerocosnya cepat dari seberang sana.
Belum
sempat aku bicara, ponselnya sudah dimatikan. Apa gerangan yang terjadi. Kok
bisa ada luka sobek di jari kaki bapak. Kecelakaan apa yang menimpa bapak. Saat
itu memang aku tidak mengabarkan langsung pada Ibu, karena tau, pasti ibu tak
kalah paniknya bila mendengarnya.
***
Suara
deru motor terdengar sayup, Aku segera keluar dan membantu membopong bapak
setelah turun dari sepeda motor.
“Bagaimana
Kejadiannya? Kenapa bisa seperti ini?” Aku jadi panik meliat kaki bapak yang
digips.
“Masukin
dulu ke dalam, Mas. Entar aku ceritain” Balasnya sambil menstandar motor.
***
Setelah
aku rebahkan di kursi, sambil sedikit mengaduh bapak mulai bercerita.
“Itu
tadi tukang becaknya yang ga ati-ati. Masa’ keluar dari lorong ga ngeliat-liat.
Langsung nerobos aja.” Ujar bapak kesal.
“Terus,
Bapak tabrak?”
“Bukan,
Tadi siang itu, kejadiannya. Bukan kami yang nabrak, Mas. Tapi Tukang becak itu
yang nabrak, kami. Tadi Aku yang bawa sepeda motornya, bapak aku bonceng.”
Sahut Adikku dari dapur.
“terus,
Kok bisa jarinya yang kena?”
“Iya,
Kaki bapak nyerempet bemper besi depannya becaknya.”
“Tapi
Aku juga kasian Mas, sama tukang becaknya”
“Lho,
kok bisa??” Tanyaku heran.
“Iya,
Masak bapak marah-marahi itu tukang becak. Sampe suruh-suruh ganti rugi segala.
Mana itu bapak tukang becak kayaknya udah tua. Kasian aku ngeliatnya” Adikku
sepertinya membela sekali.”
“Emang
bapak tadi minta ganti rugi apaan, Dek?”
“Bapak
suruh tukang becak itu ganti rugi biaya pengobatannya, Mas. Masak dimintai
empat ratus ribu. Kasianlah..”
“Empat
Ratus Ribu????”””
Panyula, 20/3/2015

kereenn pak (y) good
ReplyDelete